Latest Post

Tes Psikologi Online

Definisi tes psikologi online
Test psikologi online adalah suatu kegiatan pengukuran atau penilaian melalui upaya yang sistematik untuk mengungkap aspek-aspek psikologi tertentu dari individu yang dilakukan secara online dengan mengakses dari internet.

Tes psikologi online mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.      Fungsi seleksi.
Berfungsi untuk memilih individu-individu yang cocok/sesuai dengan kualifikasi yang diharapkan melalui media online atau lewat internet.
2.      Fungsi Klasifikasi
Berfungsi mengelompokkan individu-individu dalam kelompok sejenis dari hasil tes psikologi yang dilakukan secara online tersebut.
3.      Fungsi deskripsi
Berfungsi untuk menggambarkan profil seseorang seperti kepribadian, tingkah laku, kemampuan, minat dan bakat dan lainnya hanya dengan melalu tes online tersebut.

Tes psikologi online memiliki dampak positif dan negatif yaitu:
a)    Dampak Positif
· Efisien dan efektif. Dapat mempermudah pekerjaan psikolog dalam menskoring hasil tes dengan adanya software untuk skoring hasil tes yang bersangkutan.
· Hemat waktu karena dapat diselesaikan dalam waktu yang relatif singkat.
· Tidak perlu keluar rumah untuk tes psikologi kita bisa mengerjakannya kapan saja dimana saja melewati web tes psikologi online dengan akses internet
· Hasilnya pun langsung bisa kita ketahui tanpa menunggu waktu yang lama.
· Hasilnya pun langsung bisa kita ketahui tanpa menunggu waktu yang lama.
b)   Dampak Negatif
· Individu akan sudah mengetahui dan memahami materi tes sehingga mengerjakan tes tidak sesuai dengan kondisi dirinya sendiri, sehingga akan memanipulasi dengan menampilkan sisi-sisi baik yang dapat membuat hasil tes terlihat baik.
· Soal soal tes yang diberikan tidak selalu update.
· Masalah penilaian masih kurang akurat karena bukan dinilai oleh ahlinya secara langsung.
· Kurangnya kerahasiaan dari alat tes.
·Program tes psikologi yang ada akan mudah sekali bocor dan soal-soal tes sudah banyak diperjual belikan secara umum.
·Tes psikologi secara online tidak tau pasti  web tersebut resmi atau tidak, di era yang sekarang ini teknologi sudah sangat canggih belum tentu yang membuat web tes psikologi tersebut psikolog sungguhan melainkan orang-orang biasa.
·Tes psikologi secara online dapat merugikan para psikolog, karena tes ini bisa membuat nama psikolog menjadi tidak baik di mata para masyarakat dan tes psikologi ini membuat para orang percaya sehingga banyak orang yang lebih memilih tes online dari pada datang langsung ke psikolog, selain itu juga biayanya pun hemat di banding datang ke psikolognya.

Keterpercayaan dari tes psikologi online
Hasil dari tes psikologi online hanya berupa hasil angka, bukan berupa sebuah pembahasan yang detail. Itulah bedanya tes psikologi online dengan yang tidak. Hasil dari tes psikologi seharusnya diteliti lagi oleh para psikolog, agar hasil yang didapat tidak sebatas angka saja. Maka dari itu, tes psikologi online tidak bisa dijadikan tolok ukur dalam mengukur kemampuan individu.
            Dengan maraknya tes psikologi online dari web yang tidak resmi, kebocoran soal dan kunci jawaban dapat dijadikan manipulasi dalam menjawab soal tes psikologi online tersebut, beberapa tes psikologi online juga tidak memberikan batasan waktu dan tidak ada pengawasan dalam proses menjawabnya, serta penilaian hanya dilihat dari segi jawaban benar dan jawaban salah, bukan hasil penilaian dari psikolog langsung, itulah beberapa faktor yang menjadikan tes psikologi online kurang akurat.         
Banyak orang khawatir tidak lulus tes psikologi, kekhawatiran itu sebenarnya kurang mendasar karena tes psikologi itu bukan sebuah ujian yang hasilnya Lulus atau Tidak. Namun tes psikologi adalah sebuah cara untuk mengetahui potensi individu. Karena takut tidak lulus akhirnya para individu sebelumnya mengikuti tips dan trik yang dibaca di buku-buku ataupun secara online tentang bagaimana mengisi dan sebagainya.
    Dalam proses pengerjaan tes psikologi, butuh kejujuran untuk mendapat hasil yang sebenarnya. Hasil yang di dalamnya membahas seberapa besar potensi kita dalam suatu hal, dan sebagainya.
            Menurut saya, tes psikologi secara langsung hasilnya bisa lebih terjamin dari pada tes psikologi online. Karena tes psikologi langsung banyak yang lebih resmi dan di periksa oleh psikolog. Meskipun perlu adanya biaya dan memerlukan waktu pada tes psikologi langsung, saya lebih memilih tes psikologi secara langsung yang sudah bersertifikat resmi dan memberikan hasil yang akurat.-




 

Aspek Psikologis dari Individu Pengguna Internet


Hasil gambar untuk Aspek Psikologis dari Individu Pengguna Internet
Seiring dengan perkembangan zaman, teknologi yang terus berkembang mengikuti kebutuhan pasar dimana semua orang membutuhkan satu teknologi yang serba praktis, cepat dan hemat telah memunculkan satu teknologi yang disebut internet. Teknologi internet ini telah banyak digunakan oleh banyak kalangan, dari anak-anak sampai orang tua.
Lani Sidharta (1996) menyatakan bahwa internet adalah suatu bentuk interkoneksi dari sebuah jaringan komputer, dimana dapat memberikan bentuk layanan informasi secara lengkap. Dijelaskan lagi lebih lanjut, bahwa internet juga terbukti sebagai rekan maya atau virtual yang ampuh, yang biasa digunakan dalam media bisnis, politik, dan bahkan untuk hiburan semata. Walaupun secara fisik internet merupakan suatu bentuk interkoneksi antar jaringan komputer namun secara umum internet harus dapat dipandang dan juga dipahami sebagai sebuah sumber daya informasi. Disebutkan pula oleh Sidharta, bahwa isi dari internet adalah informasi, dimana hampir semua aspek kehidupan manusia bisa ditemukan dalam bentuk virtual di dalam internet.
  •    Fenomena Identitas Diri Melalui Internet
Identitas merupakan sebuah hal yang penting di dalam suatu masyarakat yang memiliki banyak anggota. Identitas membuat suatu gambaran mengenai seseorang, melalui; penampilan fisik, ciri ras, warna kulit, bahasa yang digunakan, penilaian diri, dan faktor persepsi yang lain, yang semuanya digunakan dalam mengkonstruksi identitas budaya.
Identitas menurut Klap (Berger, 2010: 125) meliputi segala hal pada seseorang yang dapat menyatakan secara sah dan dapat dipercaya tentang dirinya sendiri – statusnya, nama, kepribadian, dan masa lalunya. Identitas diri merupakan susunan gambaran diri individu sebagai seseorang.
Menurut Michael Hecth dan koleganya (dalam Little John : 131) pada teori komunikasi tentang identitas, identitas adalah sebuah penghubung utama antara individu dan masyarakat serta komunikasi merupakan mata rantai yang memperbolehkan hubungan ini terjadi. Identitas yang ada adalah kode yang mendefinisikan keanggotan individu dalam komunitas yang beragam. Kode yang terdiri dari simbol, seperti bentuk pakaian dan kepemilikan dan kata-kata, seperti deskprisi diri atau benda yang biasanya individu katakan, dan makna yang individu dan orang lain hubungkan terhadap benda-benda atau atribut-aribut tersebut.
 Maraknya penggunaan internet di berbagai kalangan menunjukkan peran internet yang  sudah merambah di semua aspek kehidupan khususnya dibidang informasi. Pengunaan internet di kalangan mahasiswa pada kenyataanya lebih berisiko dari pada orang dewasa menurut  psikolog Elizabett Santosa, Selain itu meningkatnya pengguna status jejaring sosial yang sebagian  besar diantaranya adalah remaja, merupakan fenomena yang berkembang saat ini.
Pembentukan identitas juga terjadi melalui rangkaian ide-ide yang  dimunculkan di internet. Dalam keadaan ini, pengumuman identitas dipengaruhi oleh karakteristik fisik (misalnya, jenis  kelamin, etnis, tarik) dan pengetahuan dengan latar belakang sosial. Selain itu, atribut pribadi  sering mengontrol penempatan identitas. Oleh karena itu sangat sulit bagi individu untuk mengklaim identitas dan menciptakan tayangan yang tidak sesuai dengan sifat sifat mereka yang  diproyeksikan. Sebaliknya, lingkungan online memungkinkan individu untuk terlibat dalam  pengaturan terkontrol di mana identitas yang ideal dapat disampaikan.
Setiap individu memiliki suatu mekanisme yang dapat membantu mengatur dan mengarahkan perilaku yaitu kontrol diri. Sebagai salah satu sifat kepribadian kontrol diri pada satu individu dengan individu yang lain tidaklah sama. Ada yang memiliki kontrol diri yang tinggi dan ada individu yang memiliki kontrol diri yang rendah. Adapun tipe-tipe pengguna internet berdasarkan lama waktu yang digunakan adalah sbb; pengguna berat (heavy users), yaitu individu yang menggunakan internet selama lebih dari 40 jam/bulan, pengguna sedang (medium users), yaitu individu yang menggunakan internet 10-40 jam per/bulan, dan pengguna ringan (light users), yaitu individu yang menggunakan internet tidak lebih dari 10 jam/bulan. Intensitas waktu yang tinggi dalam penggunaan internet daripada komunikasi tatap muka membuat apa yang mereka lakukan di internet itu cenderung ke hedonisme (lebih  mementingkan kehidupan duniawi), adanya motif gaya hidup yang tinggi dalam menggunakan  internet, membuat para pengguna internet harus mengimbangi para pengguna di  dalamnya. Internet terutama media sosial berubah menjadi ajang untuk meningkatkan brand images dan ingin  menjadi orang yang highclass.
Bahwa apa yang seseorang posting di internet tidak selalu menggambarkan keadaan social life mereka yang sebenarnya. Ketika individu memposting sisi hidupnya yang penuh kesenangan, tidak jarang kenyataannya dalam hidupnya mereka merasa kesepian. Manusia sebagai aktor yang kreatif mampu menciptakan berbagai hal, salah satunya adalah ruang interaksi dunia maya.
Di internet, identitas diri dimaknai beragam dan kadang berbeda dengan dunia real. Individu yang ingin dimaknai tidak berbeda antara dunia nyata dan virtual, merasa harus hati-hati saat dia mengkonstruksi dirinya di internet dan mempertimbangkan nilai dan norma di dunia nyata di dalam dunia virtualnya. Internet  juga dapat menjadi tempat untuk mengkonstruksi identitas imajinatif dari para pengguna yang berbeda dengan dunia real. Konstruksi identitas dapat dilakukan melalui beragam foto yang di upload berupa foto diri, teman, keluarga, tokoh tulisan yang dibuat / dirujuk / dikomentari, quote yang diambil, link yang diakses, tempat yang dikunjungi, kegiatan yang dilakukan atau diikuti. Terdapat beraneka ragam  karakter simbol untuk mewakili perasaan atau pikiran individu ketika berhubungan melalui  internet.
Individu menggunakan internet untuk menampilkan citra diri mereka, agar tampil seperti yang mereka harapkan. Peg Streep, (dalam Jatmika, 2013), menjelaskan bahwa salah satu alasan individu menggunakan internet adalah untuk menumbuhkan citra. Oleh sebab itu, individu menjadikan internet sebagai penumbuh citra positif mereka. Individu akan cenderung memberikan kesan yang baik saat di internet. Mereka berharap orang lain melihat mereka seperti apa yang mereka harapkan.
Individu akan membuat segala macam cara untuk mempertahankan eksistensi diri mereka dalam lingkungannya. Individu akan merasakan kebahagiaan tersendiri ketika orang lain dapat melihat image diri yang mereka bangun di internet dan akan lebih bahagia lagi ketika ada temannya yang merasa iri dengan gambaran yang mereka lakukan.
Pembentukan identitas melalui internet yang dilakukan individu melalui berbagai bentuk, baik menggunakan bahasa verbal maupun non verbal. Berupa tulisan yang dapat membentuk identitas seorang pengguna internet. Sebagai contoh melalui nama yang digunakan, informasi atau isi yang dimuat seperti berbagai tulisan. Penggunaan nama asli (real name) maupun samaran (sidoname) digunakan dengan berbagai tujuan, Berbagai motif terkait penggunaan nama samaran tersebut menunjukkan bahwa individu tidak menyadari bahwa pemakaian nama samaran terkadang memunculkan polemik tersendiri dalam dunia internet. Banyaknya akun-akun dengan menggunakan identitas samaran. Tentu masing-masing dari pengelolanya punya maksud tersendiri dalam menggunakan akun dengan identitas samaran tersebut.
Hasil ini menunjukan adanya keragaman makna tentang keberadaan internet, yang terungkap  adalah internet dapat menjadi sarana untuk eksistensi diri, menampung pemikiran, melepaskan  pikiran, hiburan atau kepuasan, dan membangun jaringan sosial. Selain itu internet juga  menjadi sarana yang sangat efektif untuk berbagi, publikasi karya, membentuk komunitas, dan sarana edukasi pemikiran alternatif (kritis). Terkait kebebasan, internet dimaknai lebih memberikan kebebasan dan melepaskan individu dari ikatan nilai atau norma budaya, dialogis dan mempertajam pemikiran atau terbiasa menerima kritik, itu dapat terjadi karena internet dimaknai sebagai tempat berdebat, berargumen, mempermalukan atau mendapatkan respon atau apresiasi dari pengguna lain.
  • Karakteristik kepribadian pengguna internet
Masyarakat memanfaatkan internet untuk berinteraksi dengan orang lain, sarana bersosalisasi, membentuk hubungan yang bertahan lama, dan bahkan dapat berkembang secara nyata di kehidupan sosial.
Ungkapan baik di lingkungan social maupun internet ini disebut dengan self disclosure, yaitu pengungkapan diri yang memungkinkan diri sejati seseorang diketahui orang lain (Jourard, 1964). Self disclosure (pengungkapan diri) merupakan sarana untuk membagi informasi tentang  diri mereka kepada orang lain. Informasi yang mereka bagikan tersebut terkait dengan identitas diri dan perasaan serta keadaan yang mereka alami. Selain itu self disclosure dapat membangun keintiman dalam suatu hubungan yang sudah dibina dengan orang lain. Menurut Lumsden, self disclosure dapat membantu seseorang berkomunikasi dengan orang lain, meningkatkan kepercayaan diri serta hubungan menjadi lebih akrab. Self disclosure juga dapat melepaskan perasaan bersalah dan cemas (Calhoun dan Acocella, 1990). Tanpa self disclosure, individu cenderung mendapat penerimaan sosial kurang baik sehingga berpengaruh pada perkembangan kepribadiannya (dalam Gainau, 2009).
Penelitian yang dilakukan Johnson (dalam Hamdan Juwaeni, 2009) menunjukkan bahwa individu yang mampu dalam membuka diri akan dapat mengungkapkan diri dengan tepat, terbukti mampu menyesuaikan diri (adaptive), lebih percaya diri, lebih kompeten, dapat diandalkan, lebih mampu bersikap positif, percaya terhadap orang lain, lebih objektif, dan terbuka. Sebaliknya individu yang kurang mampu membuka diri terbukti tidak mampu menyesuaikan diri, kurang percaya diri, timbul perasaan takut, cemas, merasa rendah diri, dan tertutup. Atau dengan kata lain individu introvert cenderung sulit untuk mengungkapkan diri dan sebaliknya individu yang ekstrovert cenderung mudah untuk memngungkapkan diri. Orang yang kurang berani bicara pada umumnya juga kurang mengungkapkan diri daripada mereka yang merasa lebih nyaman dalam berkomunikasi.
  
  • Internet sebagai sumber kebutuhan informasi dapat membentuk perilaku
Pada dasarnya manusia membutuhkan informasi sebagai bagian dari tuntutan kehidupannya, penunjang kegiatannya, sekaligus sebagai pemenuhan kebutuhannya. Krech, Crutchfield, dan Ballachey (dalam Saepudin, 2009) menjelaskan adanya kebutuhan untuk memecahkan masalah masalah sosial, seseorang termotivasi untuk mencari pengetahuan, bagaimana caranya agar dapat memecahkan masalah tersebut. Salah satu cara yang dilakukan adalah mencari tambahan pengetahuan melalui internet. Konsep umum kebutuhan merupakan konsep psikologis yang mengacu pada kondisi kejiwaan (mental states) atau perhatian (attention) yang dicurahkan pada sebuah gagasan, dimana subyektifitas dan motivasi seseorang berperan besar dalam mendorong timbulnya ekspresi kebutuhan (Wilson, 2000). Merujuk pada pendapat Wilson, kebutuhan informasi manusia terbagi dalam tiga korteks, yaitu kebutuhan terkait dengan lingkungan seseorang (person’s environment), peran sosial yang disandang (social roles), dan karakteristik individu (individual characteristics) (Godbold, 2006). Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Wilson tersebut, Pirolli dan Card memandang bahwa pada dasarnya setiap manusia di era inforamsi ini merupakan informavores (Gleeson, 2001). Informavores merupakan dekripsi dari perilaku infromasi manusia dalam masyarakat modern.
Salah satu kebutuhan terbesar manusia adalah memenuhi kebutuhan kognitifnya. Wilson mengertikan kebutuhan kognitif (cognitive need) sebagai “ need to find order and meaning in the environment “ (Eeva-liisa, 1998). Kebutuhan ini berkaitan erat dengan motif seseorang untuk memperkuat atau menambah informasi, pengetahuan dan pemahaman mengenai lingkungannya. Dalam hal ini, lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk perilaku yang ditunjukan oleh individu. Menurut Pirolli (2005), manusia secara adaptif membentuk perilaku mereka berdasarkan lingkungan informasinya, demikian juga sebaliknya lingkungan informasi juga dibentuk oleh manusia. Sehingga, tidak mengherankan jika alat yang digunakan dalam penemuan informasi masyarakat banyak diadaptasi dari fluktasi informasi yang terjadi dalam lingkungan (Gleeson, 2001).

Daftar Pustaka:
  • Novianto, Iik. 2011. Studi deskriptif tentang perilaku penggunaan internet dikalangan   mahasiswa perguruan tinggi negeri (FISIP UNAIR) dengan perguruan tinggi swasta (FISIP UPN) untuk memenuhi kebutuhan informasinya. Perilaku penggunaan internet di kalangan mahasiswa. Surabaya: Universitas Airlangga. hal 12-13. 
  • Nihayah, Zahrotun, Solicha dan Yuniar Rachdianti. 2011. “Hubungan antara Self Control dengan Intensitas Penggunaan Internet Remaja Akhir”. Skripsi. Jakarta: Fakultas Psikologi UIN Syarif Hidayatullah. 
  • Putro, Fanny Hendro Aryo. 2018. Studi Deskriptif Kualitatif Tentang Perilaku Penggunaan Media Sosial dan Identitas Diri di Kalangan Mahasiswa S1 Jurusan  Komunikasi Universitas Slamet Riyadi Surakarta. Surakarta: Universitas Sebelas Maret. hal 946-955.
  • A yun,  Primada Qurrota. 2015. Fenomena Remaja Menggunakan Media Sosial dalam Membentuk Identitas. Yogyakarta: Universitas Ahmad Dahlan. Vol. 3, No. 2:3. 
  • Riska, Harihanto dan  Agustin Nurmanina. 2013. Studi pada Penggunaan Internet Oleh Pelajar SMP N 1 Samarinda. E-Journal Sosiatri – Sosiologi. Samarinda: Universitas Mulawarman. Vol. 1. No. 4:47 
  • Widiyastuti, Ana. 2016. Pengaruh Tipe Kepribadian terhadap Self Disclosure pada Pengguna Facebook. Jakarta: Universitas Esa Unggul. hal 2-4.
 
 
Nama  : Ditha Permata Puspita
NPM   : 12516142
Kelas   : 2PA01
 
  •  
 

Mitos, Penalaran, dan Cara Memperoleh Pengetahuan

·      Mitos
Secara sederhana, definisi mitos adalah suatu informasi yang sebenarnya salah tetapi dianggap benar karena telah beredar dari generasi ke generasi. Begitu luasnya suatu mitos beredar di masyarakat sehingga masyarakat tidak menyadari bahwa informasi yang diterimanya itu tidak benar. Karena begitu kuatnya keyakinan masyarakat terhadap suatu mitos tentang sesuatu hal, sehingga mempengaruhi perilaku masyarakat.
Mitos atau mite adalah cerita prosa rakyat yang ditokohi oleh para dewa atau makhluk setengah dewa yang terjadi di dunia lain (khayangan) pada masa lampau dan dianggap benar-benar terjadi oleh yang punya cerita atau penganutnya. Mitos juga disebut Mitolog, yang kadang diartikan Mitologi adalah cerita rakyat yang dianngap benar-benar terjadi dan bertalian dengan terjadinya tempat, alam semesta, para dewa, adat istiadat, dan konsep dongeng suci. Mitos juga merujuk kepada satu cerita dalam sebuah kebudayaan yang dianggap mempunyai kebenaran mengenai suatu peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu. Jadi, mitos adalah cerita tentang asal-usul alam semesta, manusia atau bangsa yang diungkapkan dengan cara-cara gaib dan mengandung arti yang dalam. Mitos juga mengisahkan petualangan para dewa, kisah percintaan mereka, kisah perang mereka dan sebagainya.
Mengapa Mitos dipercaya? Sebab masyarakat beranggapan mitos sangat berpengaruh pada kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat tradisional yang masih sangat kental budaya kedaerahnya.
Mereka kebanyakan mengabaikan logika dan lebih mempercayai hal-hal yang sudah turun menurun dari nenek moyang. Pada dasarnya, mitos orang zaman dahulu memiliki tujuan yang baik untuk kelangsungan hidup keturunannya. Ada masyarakat yang mempercayai mitos tersebut, ada juga masyarakat yang tidak mempercayainya. Jika mitos tersebut terbukti kebenarannya, maka masyarakat yang mempercayainya merasa untung. Tetapi jika mitos tersebut belum terbukti kebenarannya, maka masyarakat bisa dirugikan. Mitos dipercaya sebagai ajaran nenek moyang tentang apa yang tidak boleh dilakukan agar tidak tertimpa daerah.
Contoh :
Pelangi dianggap sebagai selendang bidadari atau naga yang sedang meminum air. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu bidadari dan naga.
Gempa bumi diduga terjadi karena naga yang sedang memegang bumi bergeser dari tempatnya sehingga bumi bergetar.
Gerhana bulan dianggap sebagai kejadian bulan dimakan raksasa  kala rahu (raksasa hanya memiliki kepala saja) sehingga orang-orang memukul kentongan agar bulan tidak habis dimakan.
Bunyi guntur dianggap sebagai kereta para dewa yang sedang melintas di angkasa.

·      Legenda
Sebuah kisah sejarah tradisional (atau kumpulan cerita terkait) populer dianggap benar tetapi biasanya berisi campuran fakta dan fiksi. legenda adalah cerita yang diceritakan seolah-olah itu adalah peristiwa sejarah, bukan sebagai penjelasan untuk sesuatu atau narasi simbolik. Legenda mungkin atau mungkin tidak versi dijabarkan dari peristiwa sejarah. Legenda yang dalam bahasa Latin disebut legere adalah cerita prosa rakyat yang dianggap oleh empunya cerita sebagai sesuatu yang benar-benar terjadi.
Oleh karenanya, legenda sering kali dianggap sebagai sejarah kolektif (folk history). Meski demikian, karena tidak tertulis, maka kisah-kisah tersebut telah mengalami distorsi, sehingga sering kali jauh berbeda dengan aslinya. Oleh sebab itu, jika legenda dipergunakan sebagai bahan untuk merekonstruksi suatu sejarah, maka legenda harus dibersihkan terlebih dahulu bagian-bagiannya dari hal-hal yang mengandung sifat-sifat cerita rakyat (folklore).
Legenda ataupun cerita rakyat, terkait dekat sekali dengan Mitologi. Namun, pada cerita rakyat, waktu dan tempat tidak spesifik dan ceritanya tidak dianggap sebagai sesuatu yang suci dan dipercaya kebenarannya layaknya Mitologi. Sedangkan legenda sendiri, meskipun kejadiannya dianggap benar, pelaku-pelaku kisahnya adalah manusia, bukan Dewa dan monster seperti pada Mitologi.
Contoh : Sangkuriang dikaitkan dengan Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat.

·      Cerita Rakyat
Cerita Rakyat adalah sebagian kekayaan budaya dan sejarah yang dimiliki Bangsa Indonesia. Pada umumnya, cerita rakyat mengisahkan tentang suatu kejadian di suatu tempat atau asal muasal suatu tempat. Tokoh-tokoh yang dimunculkan dalam cerita rakyat umumnya diwujudkan dalam bentuk binatang, manusia maupun dewa. Fungsi Cerita rakyat selain sebagai hiburan juga bisa dijadikan suri tauladan terutama cerita rakyat yang mengandung pesan-pesan pendidikan moral. Banyak yang tidak menyadari kalo negeri kita tercinta ini mempunyai banyak
Cerita Rakyat Indonesia yang belum kita dengar, bisa dimaklumi karena cerita rakyat menyebar dari mulut – ke mulut yang diwariskan secara turun – temurun. Namun sekarang banyak Cerita rakyat yang ditulis dan dipublikasikan sehingga cerita rakyat Indonesia bisa dijaga dan tidak sampai hilang dan punah.Sekarang banyak juga Cerita Rakyat yang difilmkan lho dan sisi positifnya Cerita Rakyat jadi semakin terjaga meski kadang ada penambahan jalan ceritanya.
Contoh : Jaya Prana dari daerah Buleleng (Bali), Lutung Kasarung dari daerah Pasundan, Timun Emas dari daerah Jawa Tengah.

Pengetahuan dapat diperoleh kebenarannya dari dua pendekatan, yaitu pendekatan non-ilmiah dan ilmiah. Pada pendekatan non ilmiah ada beberapa pendekatan yakni akal sehat, intuisi, prasangka, penemuan dan coba-coba dan pikiran kritis.
1. Akal sehat
Menurut Conant yang dikutip Kerlinger (1973, h. 3) akal sehat adalah serangkaian konsep dan bagian konseptual yang memuaskan untuk penggunaan praktis bagi kemanusiaan. Konsep merupakan kata yang dinyatakan abstrak dan dapat digeneralisasikan kepada hal-hal yang khusus. Akal sehat ini dapat menunjukan hal yang benar, walaupun disisi lainnya dapat pula menyesatkan.
2. Intuisi
Intuisi adalah penilaian terhadap suatu pengetahuan yang cukup cepat dan berjalan dengan sendirinya. Biasanya didapat dengan cepat tanpa melalui proses yang panjang tanpa disadari. Dalam pendekatan ini tidak terdapat hal yang sistemik.
3. Prasangka
Pengetahuan yang dicapai secara akal sehat biasanya diikuti dengan kepentingan orang yang melakukannya kemudian membuat orang mengumumkan hal yang khusus menjadi terlalu luas. Dan menyebabkan akal sehat ini berubah menjadi sebuah prasangka.
4. Penemuan coba-coba
Pengetahuan yang ditemukan dengan pendekatan ini tidak terkontrol dan tidak pasti. Diawali dengan usaha coba-coba atau dapat dikatakan trial and error. Dilakukan dengan tidak kesengajaan yang menghasilkan sebuah pengetahuan dan setiap cara pemecahan masalahnya tidak selalu sama. Sebagai contoh seorang anak yang mencoba meraba-raba dinding kemudian tidak sengaja menekan saklar lampu dan lampu itu menyala kemudian anak tersebut terperangah akan hal yang ditemukannya. Dan anak tersebut pun mengulangi hal yang tadi ia lakukan hingga ia mendapatkan jawaban yang pasti akan hal tersebut.
5. Pikiran Kritis
Pikiran kritis ini biasa didapat dari orang yang sudah mengenyam pendidikan formal yang tinggi sehingga banyak dipercaya benar oleh orang lain, walaupun tidak semuanya benar karena pendapat tersebut tidak semuanya melalui percobaan yang pasti, terkadang pendapatnya hanya didapatkan melalui pikiran yang logis.
6.Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah adalah pengetahuan yang didapatkan melalui percobaan yang terstruktur dan dikontrol oleh data-data empiris. Percobaan ini dibangun diatas teori-teori terdahulu sehingga ditemukan pembenaran-pembenaran atau perbaikan-perbaikan atas teori sebelumnya. Dan dapat diuji kembali oleh siapa saja yang ingin memastikan kebenarannya.

OPINI
Menurut saya hadirnya mitos itu dikarenakan jaman dahulu manusia membuat itu karena kurangnya memperoleh pengetahuan dan prasarana untuk mengetahui hal yang pasti mengenai kebenaran tersebut. bila di bandingkan dengan sekaran, zaman modern dimana semua pake logika mitos2 tersebut pun lama2 menghilang

A. Rasa Ingin Tahu
Ilmu pengetahuan alam bermula dari rasa ingin tahu yang merupakan cirri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda di alam sekitarnya, bulan, bintang, dan matahari, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri (antroposentris).
Dengan pertolongan akal budinya manusia menemukan berbagai cara untuk melindungi diri terhadap pengaruh lingkungan yang merugikan. Tetapi adanya akal budi itu juga menimbulkan rasa ingin tahu yang selalu berkembang. Rasa ingin tahu itu tidak pernah dapat dipuaskan. Kalau salah satu soal dapat dipecahkan maka timbul soal lain yang menunggu penyelesaian. Akal budi manusia tidak pernah puas dengan pengetahuan yang dimilikinya.
Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul dalam pikirannya. Kegiatan yang dilakukan manusia itu kadang-kadang kurang serasi dengan tujuannya. Sehingga tidak dapat menghasilkan pemecahan. Tetapi kegagalan biasanya tidak menimbulkan rasa putus asa, bahkan seringkali justru membangkitkan semangat yang lebih menyala-nyala untuk memecahkan persoalan. Dengan semangat yang makin berkobar ini diadakanlah kegiatan-kegiatan lain yang dianggap lebih serasi dan dapat diharapkan akan menghasilkan penyelesaian yang memuaskan.

Kegiatan untuk mencari pemecahan dapat berupa:
a. Penyelidikan langsung.
b. Penggalian hasil-hasil penyelidikan yang sudah pernah diperoleh orang lain.
c. Kerja sama dengan penyelidik-penyelidik lain yang juga sedang memecahkan soal yang sama atau yang sejenis.

B.     MITOS
Rasa ingin tahu manusia ternyata tidak dapat terpuaskan hanya atas dasar pengamatan ataupun pengalaman. Untuk itulah, manusia mereka-reka sendiri jawaban atas keingintahuannya itu. Sebagai contoh: “Apakah pelangi itu?”, karena tak dapat dijawab, manusia mereka-reka jawaban bahwa pelangi adalah selendang bidadari. Jadi muncul pengetahuan baru yaitu bidadari. Contoh lain: “Mengapa gunung meletus?”, karena tak tahu jawabannya, manusia mereka-reka sendiri dengan jawaban: “Yang berkuasa dari gunung itu sedang marah”. Dengan menggunakan jalan pemikiran yang sama muncullah anggapan adanya “Yang kuasa” di dalam hutan lebat, sungai yang besar, pohon yang besar, matahari, bulan, atau adanya raksasa yang menelan bulan pada saat gerhana bulan. Pengetahuan baru yang bermunculan dan kepercayaan itulah yang kita sebut dengan mitos. Cerita yang berdasarkan atas mitos disebut legenda.

Mitos itu timbul disebabkan antara lain karena keterbatasan alat indera manusia misalnya:
1.      Alat Penglihatan
Banyak benda-benda yang bergerak begitu cepat sehingga tak tampak jelas oleh mata. Mata tidak dapat membedakan benda-benda. Demikian juga jika benda yang dilihat terlalu jauh, maka tak mampu melihatnya.
2.      Alat Pendengaran
Pendengaran manusia terbatas pada getaran yang mempunyai frekuensi dari 30 sampai 30.000 perdetik. Getaran di bawah 30 atau di atas 30.000 perdetik tak terdengar.
3.      Alat Pencium dan Pengecap
Bau dan rasa tidak dapat memastikan benda yang dicecap maupun diciumnya . manusia hanya bisa membedakan 4 jenis masa yaitu rasa manis,masam ,asin dan pahit.
Bau seperti parfum dan bau-bauan yang lain dapat dikenal oleh hidung kita bila konsentrasi di udara lebih dari sepersepuluh juta bagian. Melalui bau, manusia dapat membedakan satu benda dengan benda yang lain namun tidak semua orang bisa melakukannya.
4.      Alat Perasa
Alat perasa pada kulit manusia dapat membedakan panas atau dingin namun sangat relatif sehingga tidak bisa dipakai sebagai alat observasi yang tepat.
Alat-alat indera tersebut di atas sangat berbeda-beda, di antara manusia: ada yang sangat tajam  penglihatannya, ada yang tidak. Demikian juga ada yang tajam penciumannya ada yang lemah. Akibat dari keterbatasan alat indera kita maka mungkin timbul salah informasi, salah tafsir dan salah pemikiran. Untuk meningkatkan kecepatan dan ketepatan alat indera tersebut dapat juga orang dilatih untuk itu, namun tetap sangat terbatas. Usaha-usaha lain adalah penciptaan alat. Meskipun alat yang diciptakan ini masih mengalami kesalahan. Pengulangan pengamatan dengan berbagai cara dapat mengurangi kesalahan pengamatan tersebut. Jadi, mitos itu dapat diterima oleh masyarakat pada masa itu karena:
a.              Keterbatasan pengetahuan yang disebabkan karena keterbatasan penginderaan baik langsung maupun dengan alat.
b.              Keterbatasan penalaran manusia pada masa itu.
c.              Hasrat ingin tahunya terpenuhi

Menurut Auguste comte (1798-1857),dalam sejarah perkembangan jiwa manusia, baik sebagai individu maupun sebagai keseluruhan, berlangsung tiga tahap:
1.      Tahap teologi atau fiktif
2.      Tahap filsafat atau metafisik atau abstrak
3.      Tahap positif atau ilmiah riel

Pada tahap teologi atau fiktif manusia berusaha untuk mencaari atau menemukan sebab yang pertama dan tujuan yang terakhir dari segala sesuatu,dan selalu dihubungkan dengan kekuatan ghaib. Gejala alam yang menarik perhatiannya selalu diletakkan dalam kaitannya dengan sumber yang mutlak. Mempunyai anggapan bahwa setiap gejala dan peristiwa dikuasi dan diatur oleh para dewa atau kekuatan ghaib lainnya.
Tahap metafisika atau abstrak merupakan tahap dimana manusia masih tetap mencari sebab utama dan tujuan akhir, tetapi manusia tidak lagi menyadarkan kepada kepercayan akan adanya kekuatan ghaib , melainkan kepada akalnya sendiri,akal yang telah mampu melakukan abstraktasi guna menemukan hakikat segala sesuatu.
Tahap positif atau riel merupakan tahap dimana manusia telah mampu berfikir secara positif atau riel,atas dasar pengetahuan yang telah dicapainya yang dikembangkan secara positif ,melalui pengamatan , percobaan dan perbandingan.
Mitos adalah pengetahuan yang diperoleh melalui pengalaman dan pemikiran sederhana serta dikaitkan dengan kepercayaan akan adnya kekuatan ghaib. Sehingga pengetahuan yang diperoleh bersifat subyektif.
Gempa bumi diduga terjadi karena Atlas (raksasa yang memikul bumi pada bahunya )memindahkan bumi dri bahu yang satu kebahu yang lain. Gerhana bulan diduga terjadi karena dimakan oleh raksasa. Menurut dongeng raksasa itu takut pada bunyi – bunyian, maka pada waktu gerhana bulan manusia memukul apa saja yang dapat menimbulkan bunyi. Supaya raksasa itu takut dan memuntahkan kembali bulan purnama. Bunyi guntur dikira ditimbulka oleh adanya kereta yang dikendarai dewa melintas langit.
Demikian pada tahap mitos atau tahap teologi ini manusia menjawab rasa ingin tahunya dengan menciptakan dongeng-dongeng atau mitos, karena alam pikirannya masih terbatas pada imajinasinya dan cara berpikir irasional.
Masyarakat dahulu dapat menerima mitos karena keterbatasan pengetahuan, pengalaman, dan pemikirannya.sedangkan hasrat ingin tahunya berkembang terus.
Puncak hasil pemikiran seperti di atas terjadi pada zaman Babylona,yaitu kira-kira 700-600 SM. Pendapat orang Babylona tentang alam semesta antara lain adalah bahwa alam semesta merupakan suatu ruangan atau selungkup. Lantainya adalah bumi yang datar , sedangkan langit dengan bintangnya merupakan atapnya. Dilangit ada semacam jendela yang memungkinkan air hujan dapat sampai ke bumi.
Karena kemampuan berpikirnya manusia semakin maju dan disertai pula oleh perlengkapan pengamatan, misalnya teropong bintang, mitos dengan berbagai legendanya makin ditinggalkan, dan mereka cendrung menggunakan akal sehat dan rasionya.

 
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Ditha Permata Puspita - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger